percakapan sama nyokap malem kemaren
nanda : ma, aku sama anak-anak mau ke balikpapan yah besok. boleh yah yah yah? *dengan mata berkedip-kedip memelas
mama : sama siapa aja?
nanda : sama carlos, aji anak, sama aji bapak. boleh yah? *masih ngedipin mata
mama : naik apa?
nanda : naik motor, yah Mah yah, boleh yah?
mama : HAH? naik motor? Duh, muka kamu tuh udah bersih. Kalo pergi jauh gitu naik motor lagi, kan penuh debu, nanti kotor, terus jerawatan lagi. Kan cape perawatannya. Udah ah, GA BOLEH!
nanda : ngehh? *menyernitkan alis mata
Sunday, April 24, 2011
Wednesday, April 13, 2011
Sakit Itu
"...i like the pain outside, rather than the inside..."
apa selama ini yang ku dengar, yang ku tau, ku yakini, dan ku jalani itu adalah benar? atau mungkin hanya sekedar doktrin dimana aku tercebur di dalamnya. atau memang ini benar-benar salah hanya saja aku tidak menyadarinya. tapi kalau memang benar, kenapa ini semua begitu menyakitkan? semuanya terasa sangat nyata. tidak, ini tidak mungkin nyata. kalaupun ini nyata, pasti akan jauh lebih sakit. tapi itu apa? apa itu? kenapa bisa begitu menyakitkan. apa itu? apa itu benda? atau apa? tidak bisa ku jamah. tak bisa ku raih. mataku pun tidak dapat memindai.
ada apa ini? apa ada yang salah denganku? aku tidak tahu. tidak ada jawaban yang dapat ku temukan. sakit. ini terasa sangat sakit. ini benar-benar membuat nafasku tersengal-sengal. merenyuh dadaku untuk menahan sakit. tidak! ini tidak nyata!
tidak, cahaya itu datang. semakin mendekat, semakin terang. benda apa itu? sangat menyilaukan mata. aku makin merasakan sakit. tuhan, apa ini? singkirkan benda itu jauh-jauh dariku. sakit sekali rasanya. mengikis lapisan kulitku sedikit semi sedikit.
kali ini, sakit itu nyata, benar-benar nyata. biru memar yang ada di tanganku, berangsur membaik, tidak lagi membiru tetapi menjadi merah. aneh, aku lebih menyukainya dalam keadaan membiru. tidak ada bekas, damn! aku rindu sekali tanda-tanda itu. bekas-bekas luka yang ada di tubuhku. bekas luka yang sengaja ku torehkan di tubuhku. aku rindu bau darah segar yang mengalir, aku rindu bekas luka-luka itu.
sakit itu, yah itu... sakit sekali
Thursday, March 24, 2011
Wanita
Salah satu mahluk tuhan yang indah yang di ciptakan untuk kaum adam berpasang-pasangan untuk bisa melakukan regenerasi dan meneruskan keindahannya. Wanita itu di ibaratkan seperti mutiara. Bentuknya yang bulat, solid melambangkan bahwa mereka berpendirian, warnanya yang putih bersih melambangkan kebaikan hatinya, belum lagi mutiara bisa menahan beban berat lebih dari 50 kg (ini nyata) yang menandakan bahwa mereka kuat, dan di selimuti dengan tiram yang senantiasa menjaganya yang butuh pencapaian yang tidak gampang untuk mendapatkannya.
“…kita itu super duper wonder woman, nda…”
Itu yang di katakan teman saya mengenai perempuan. Yang secara gamblang bisa kita simpulkan bahwa perempuan itu merupakan sosok yang kuat. Di balik itu, banyak orang mengatakan bahwa wanita itu lemah. Wanita terlihat sangat lemah ketika di kuasai oleh perasaannya. Entah itu senang atau sedih. Perasaan, itu adalah titik lemah seorang wanita. Tapi memang sudah tidak bisa di pungkiri, wanita kebanyakan mencerna segala sesuatunya tidak dengan logika tetapi dengan perasaan. Perasaan lah yang membuat seorang wanita bisa sangat terbuai dengan rayuan cinta yang diberikan oleh lawan jenisnya sehingga menciptakan rasa berbunga-bunga yang berlebih. Perasaan juga lah yang memebuat wanita jatuh hancur berkeping seletah di kecewakan oleh rayuan cinta tersebut. Wanita bisa menjadi sosok yang sangat periang dan sebaliknya wanita juga bisa menjadi sosok yang sangat cengeng.
Saya seorang perempuan berumur 19 tahun yang saya pikir belum bisa di sebut sebagai seorang wanita sangat berusaha untuk menalar segala sesuatunya dengan logika (ini fakta). Apapun bentuk pernyataan, situasi dan kondisi yang saya alami sebisa mungkin saya logika kan selama otak kiri saya masih mampu bekerja. Entah mengapa, saya lebih tertarik untuk lebih mengoptimalkan kinerja otak kiri saya sebagai logika daripada otak kanan saya sebagai imaji. Tetapi saya juga tidak menyangkal, kalau memang masih ada hal-hal yang bersifat imaji (perasaan) di dalam diri saya. Terlebih ketika saya mengenal cinta. Mata saya terbutakan dengan hati saya yang merekah ruah. Ini menyebalkan, ketika harus merasakan sakit karena urusan perasaan. Ini lebih menyebalkan dari mata kuliah Politik Pemerintahan Amerika Serikat.
Urusan perasaan itu sering timbul ketika kita sedang menikmati masa-masa bercinta dengan pasangan. Menjalin kasih itu terlihat sangat menyenangkan, terdengar sangat bahagia. Tapi ketika moment-moment dimana satu sama lain tidak nyaman karena suatu hal itu datang, wanita menjadi sosok yang sangat emosional. Tapi tak jarang ada wanita yang mengorbankan perasaannya demi mempertahankan kelangsungan hubungan mereka.
Wanita itu lebih banyak meminta, walau tidak terlihat seperti meminta. Wanita itu ingin di mengerti, walau pada beberapa kasus hal sebenarnya bagi lawan jenisnya itu sangat tidak perlu, wanita itu manja walau mereka tidak pernah memperlihatkan sisi centilnya ketika ingin di manja, wanita itu senang di bujuk saat mereka sedang ngambek, wanita senang di puji walaupun sambil tersipu malu untuk mengakuinya, wanita bisa menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan sangat rapi, wanita mahluk yang memiliki titik kesabaran yang jauh lebih tinggi, wanita, wanita, wanita, blah blah blah… Tidak akan pernah ada habisnya ketika berbicara apa yang wanita inginkan.
Buat saya, wanita itu seperti lapisan mika yang berada di dalam perut bumi, sangat indah di lihat bila ada cahanya yang menerpanya, terlihat kuat bila di lihat dari struktur teksturnya, tapi sangat rapuh, sekali terinjak mika itu akan langsung hancur.
Wanita...
Subscribe to:
Posts (Atom)