Friday, February 25, 2011

Senioritas

"...eh, kamu ngeyel yah di kasih tau! kalo mau minta tanda tangan saya, kamu harus cari 3 semut. semut perempuan, semut laki-laki, dan semut bencong! kalo udah dapat, baru saya mau tanda tangan, ngerti!"

Jaman SMA dulu, saya pernah mengikuti MOS, yang kalo di panjangin artinya Masa Orientasi Siswa. MOS ini kerjaannya kaka –kaka kelas anak OSIS. Kegiatan MOS yang berkedok pengenalan siswa baru dengan sekolah yang baru ini menjadi ritual setiap tahun ajaran baru. Saya mendapati kegiatan MOS itu sebagai kegiatan ‘ospek mini’ yang isinya anak-anak baru pada di kerjain sama kaka-kaka kelas. Bentuknya yah beragam tapi masih dalam batas wajar tapi tetep ngeselin sih, hihi.

Saya masuk SMA pada tahun 2005, yah sekitar 5 tahun yang lalu. Di jaman itu, senioritas sangat di ‘dewa’ kan. Menjadi senior pada waktu itu menjadi hal yang sangat keren sekali buat mereka. Ketika si senior bisa melakukan apapun yang dia mau pada juniornya, dan si junior dengan bodohnya hanya bisa menerima perbuatan buruk si senior. Sinetron sekali!

Semasa SMA saya tidak pernah sih bermasalah dengan si kaka-kaka kelas itu. Karena saat itu saya benar-benar tidak peduli dengan hal itu, sangat acuh dengan keadaan sekitar dan bisa juga di bilang culun. Yah tertawalah.

-0-

“Pasal satu, senior selalu benar. Pasal dua, junior selalu salah. Pasal tiga, kalau ada senior yang melakukan kesalahan, kembali ke pasal pertama.”

Itu benar-benar sudah tidak asing lagi di telinga kita. Itu yang di teriakkan para kaka tingkat panitia dedikasi di kampus saya. Dedikasi disini merupakan kegiatan seperti ospek tapi hanya untuk jurusan. Saya sendiri tidak pernah mengikuti kegiatan dedikasi tersebut saat awal perkuliahan. Saat itu saya sudah semester 5. Saya bukanlah panitia dedikasi seperti halnya teman-teman saya. Saya hanya di undang oleh salah satu teman yang menjadi wakil ketua panitia kegiatan tersebut. Saya di undang untuk menghadiri acara English Club di kampus dan membantu teman saya untuk jaga di posko International Relation dimana ketika adik-adik tingkat peserta dedikasi itu datang harus bisa menggunakan bahasa inggris. Mereka akan di tanya hal-hal seputar hubungan internasional dan harus di jawab dengan bahasa inggris.

-0-

“…buat peserta dedikasi, kalau ada yang bertanya ato ngerjain kalian tadi mereka tidak mengenakan baju panitia dedikasi atau bet pengenal dedikasi, kalian berhak untuk tidak menjawab dan melakukan apapun yang mereka suruh…”

Setibanya saya di posko saya bingung, apa yang harus saya lakukan di posko itu.

“lakukan apapun yang lo mau, nda” kata seorang teman saya yang sama-sama jaga di posko itu.

Apapun? Berarti saya bisa minta duit dong sama mereka? Haha, ga ding becanda.

“apapun, which is?” saya balik bertanya.

“apapun including anything” teman saya menjawab.

Well, saya pun tidak menjawab dan hanya menyalakan rokok waktu itu.

Rombongan kelompok 1 pun datang ke posko kami, delegasi dari Canada rupanya. Mereka memulai dengan yel-yel yang telah mereka siapkan. Saya tidak melakukan apapun terhadap kelompok pertama ini. Saya hanya mengamati yang di lakukan oleh 2 orang teman saya itu pada kelompok pertama itu. Mereka bertanya beberapa pertanyaan wajib sebagai penilaian untuk akhir acara dan setelah itu mereka menyuruh kelompok itu untuk membawakan yel-yel dedikasi dalam bahasa inggris, tentunya tidak lupa goyang pinggulnya, dan yang terakhir salah satu teman saya itu memberikan nasehat pencerahan pada peserta dedikasi.

“ooh, begitu toh”, aku bergumam dalam hati.

Kelompok kedua datang ke posko kami, teman saya meminta saya untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada kelompok sebelumnya. Dan akhirnya saya mencoba dan mereka pun menurut. Woow, teman saya benar, saya bisa melakukan apapun sesuka hati saya pada mereka. Eh tapi, bukankah mereka sudah di beri peringatan, jangan menjawab atau melakukan apapun yang disuruh seseorang yang bukan panitia dedikasi. Saya tidak mengenakan apapun atribut panitia dedikasi, tapi kenapa mereka menurut? Apa sebegitu menakutkannya sosok seorang senior dimata mereka? Tidak hanya terjadi pada saya, di posko lain pun ada mahasiswa yang bukan panitia ikut memerintah peserta dedikasi dan mereka pun menurut. Mereka pun enggan menatap mata saya ketika saya ajak berbincang, mereka lebih memilih untuk menundukkan kepala. “Hey, saya tidak akan melakukan hal yang buruk terhadapmu kok.”, ucapku dalam hati.

-0-

Siang itu saya dan teman baik saya pergi ke warung makan yang berada di dekat kampus. Kami ingin mengisi perut sebelum menghadiri kelas pada jam 04.00 pm. Di warung makan yang cukup besar itu kami berpapasan dengan adik-adik tingkat angkatan 2009. Saya tidak begitu mengenal mereka, ada beberapa wajah yang saya kenal karena saya pernah mengulang 2 mata kuliah di kelas mereka. Teman saya, yang notabene nya adalah wakil ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional ini pastinya sangat di kenal sama adik-adik tingkat ini. Jadilah saya terjebak dalam obrolan yang menjemukan seputar organisasi. Salah satu dari mereka, perempuan manis berjilbab, bertanya kepada saya, “Kak, gimana dedikasi kita kemaren? Oiya, mata kuliah diplomasi itu seperti apa sih? Jelasin dong, Kak”. What the? Kak? Anak itu memanggil saya dengan sebutan ‘kakak’? Haha, saya merasa aneh. Umur kami tidak jauh berbeda, bahkan saya lebih muda dari mereka.

“Duh, jangan panggil ‘kakak’ dong, Cha. Berasa tua nih saya, hehe”, saya menanggapi pertanyaannya.

“Ih kan ga enak, Kak. Kakak kan kakak tingkat kami. Kami harus dong panggil ‘kakak’. Kalo engga ntar di kira ga sopan lagi.”, si adik tingkat itu menjawab.

Damn! Harus? Saya hanya bisa menahan tawa dengan tersenyum ketika mendengar pernyataan adik tingkat saya ini.

-0-

Malam hari saat saya dan teman baik saya si Wakil Ketua HIMAHI ini untuk hangout di café langganan kami. Disana kami menghabiskan waktu dengan online dan menikmati minuman yang kami pesan. Di tengah tidak adanya perbincangan diantara kami lantaran tadinya sibuk menatap monitor laptop masing-masing, teman saya mulai membuka percakapan.

“Nanda, udah ada adik tingkat yang add facebook mu belom?”, teman saya bertanya.

Saya pun menjawab, “Hmmm, ga ada tuh. Lagian kalo gw mau bisa gw add sendiri kali.”

“Ih, Nanda! Kita ini kan kakak tingkat, masa kita yang add mereka sih? Malu dong ah. Jaga image dong, Nanda.”, balas teman saya.

Saya tidak membalas, hanya tersenyum.

-0-

Apa yang terjadi dengan mereka? Sepertinya senioritas menjadi sangat penting sekali. Karena ketika menjadi senior, kita akan di llihat dan di kenal. Terlebih untuk meraka yang aktif dalam kegiatan organisasi, popularitas menjadi hal yang sangat mutlak untuk seorang senior.

Tahukah kawan ketika kalian membeda-bedakan antara satu sama lain saat itu juga kalian membangun tembok yang bertuliskan ‘batas’?
Kalian tidak bisa menjamah satu sama lain. 
Tahukah kalian ketika kalian membuat satu batasan sama saja kalian merancang musuh yang nantinya akan kalian lawan?

No comments:

Post a Comment

silahkan di comment, bila ada yang kurang berkenan, ada saran dan masukan, please, let me know :D