Sunday, November 21, 2010

Promise Me

You light up another cigarette
And I pour the wine
It’s four o’clock in the morning
And it’s starting to get light
Now I’m right where I want to be
Losing track of time
But I wish that it was still last night
You look like you’re in another world
But I can read your mind
How can you be so far away
Lying by my side
When I go away I’ll miss you
And I will be thinking of you
Every night and day just


Promise me you’ll wait for me
’cos I’ll be saving all my love for you
And I will be home soon
Promise me you’ll wait for me
I need to know you feel the same way too
And I’ll be home, I’ll be home soon


When I go away I’ll miss you
And I will be thinking of you
Every night and day just


Promise me you’ll wait for me
’cos I’ll be saving all my love for you
And I will be home soon
Promise me you’ll wait for me
I need to know you feel the same way too
And I’ll be home, I’ll be home soon


Promise me you’ll wait for me
’cos I’ll be saving all my love for you
And I will be home soon
Promise me you’ll wait for me
I need to know you feel the same way too
And I’ll be home, I’ll be home soon 


"PROMISE ME" by Beverly Craven

Friday, November 19, 2010

For You My Lover, Happy Birthday...

it was nothing since you come around get into my life.
it's sweet, even too sweet.
i'm trying to get up from that broken pieces.
you help me, and i found my self.


you're a nice figure.
a sunrise that brighten my days.
make the glooms away.
bring back the spirits that already gone.


you fill my days with happiness.
sometimes sadness.
but it's okay, it's just the way it is.
and i'm fine with that.


it's been 10 months.
we shared our days together.
shared our times together.
our lifes together.


today is your birthday.
i'm so happy because until now,
we still can share this moment.
nothing can compare this, honey.


hope your love would never fade away...


hugs and kisses for you :*


je t'aime a la mort, l'amour de ma vie...

Monday, November 15, 2010

Tiga Paragraf Singkat

Kamu telah menemukan belantara mu, ketika kamu merasa semua ini salah dan kamu ingin mencarinya, carilah, kejar sampai dapat. Aku tak punya kuasa untuk menahanmu. Aku akan sangat senang ketika kamu menemukan kebahagiaan mu. Janji-janji itu biar lah sampai disitu, aku sangat mengerti dan walaupun sakit aku pasti bisa bertahan karena mu. Aku banyak belajar darimu dan aku pasti bisa melaluinya. 

Aku memang tidak seperti yang kamu inginkan, aku bukanlah wanita yang kuat, pemberani, bahkan dengan petir pun aku takut. Tapi aku tau, aku bisa juga karenamu. Sejujurnya, bersama denganmu itu merupakan hal yang paling ku inginkan. Tapi bila kamu terus bersamaku, aku akan sering menyakitimu, itu yang ku hindari. Maka aku akan berhenti menyakitimu.

"i'm remain yours, and you always be mine"

Memang semua itu tak kan berarti apa-apa untuk mu, tapi yakin lah pada satu hal, aku selalu ada untuk mu ketika kaki mu lelah berlari, tangan mu tidak sanggup menggapai. Aku akan tetap ada.

je t'aime a la mort, mon amour...

Sunday, November 14, 2010

Satu Bintang : One Hope

semua yang abu-abu menjadi hitam pekat, aku pun tidak bisa berbuat apapun. hanya bisa memuntahkan kemarahan ku pada benda-benda disekitar sambil terisak menangis dan tidak bisa mencerna apa yang terjadi. ku tutup semua celah yang ada ku bungkam semua mulut yang berbicara. hanya ada aku dan kesunyian di malam itu.  kesunyian malam, amarah dan tangisan ku malam itu memang tidak pernah memperbaiki keadaan. tapi hanya itu yang tersisa dariku. dingin malam itu menarik ku untuk berteman dengannya. hembusan angin jam dua malam itu meredakan tangisan ku. belaian angin itu mengajak ku untuk ikut terbang dengannya. yang mungkin dengan ku ikuti ajakan sang angin akan membawa kedamaian padaku, yang pada akhirnya akan sejati.

aku tidak ingin meninggalkan malam itu. tidak ada banyak bintang malam itu. hanya ada satu yang cahayanya paling terang menarik perhatian ku. tangisan ku berhenti mataku hanya tertuju pada bintang itu. hati ku agak sedikit tenang. tapi cahayanya mulai redup ketika aku memutuskan untuk meninggal pekarangan atap rumahku mengingat aku akan jatuh karena kondisi tubuhku yang sangat lemah karena tidak mengkonsumsi makanan selama tiga hari dan perut ku yang terus berusaha memuntahkan isi perutku yang makin memperburuk kondisi badan ku saat itu.

ku turuni anak tangga itu satu per satu dan kembali ke kekacauan kamar ku yang porak poranda buah dari kemarahan ku. ku putuskan untuk berbaring di lantai kamar ku waktu itu. dan kembali menangis. ku tutup mulut ku erat agar suara tangisan ku tidak membangunkan orang-orang.


"Honey, ternyata berharap itu menyakitkan yah?"

yah memang berharap itu menyakitkan bahkan sangat sakit. ketika kamu berharap sesuatu tetapi harapan itu tidak pernah menjadi nyata sementara yang kamu dapatkan hanyalah rasa sakit yang berkepanjangan dan bersifat kontinuitas. sangat menyebalkan bukan? itu yang saya alami sekarang. apa yang kuharapkan tidak pernah revealed dan aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa kembali pada tangisan ku.

"aku lebih suka mengorbankan perasaan ku sendiri untuk mempertahankan semua ini"

memang tidak masuk akal dan sangat bodoh, tapi bisakah kau lihat ada harapan di balik kalimat itu?

"never has, never will..."

harapan itu memang sudah sangat menguras kesabaran, waktu, mood, hati, air mata. tapi harapan itu tidak akan pernah hilang, tidak akan dan tidak akan pernah. aku sudah sangat terbiasa dengan hal itu dan aku bisa menunggu hingga harapan itu menjadi nyata dan tidak akan ada lagi tangis dan sakit hati. yang ada hanya senyum dan bahagia...

karena harapan itu yang sekarang bisa membuatku bangkit dan bisa menjalani itu semua :D


Je t'aime a la mort, L'amour de ma vie...

Saturday, November 6, 2010

Ibu Penjual Gorengan di Pintu Selatan Mall Lembuswana

Hari ini saya kembali menjadi sendiri, teman-teman tercinta sekarang sedang berada di dalam kelas sedang mengikuti mata kuliah, dan juga tidak bersama amourdemavie. Saya tidak ada mata kuliah hari ini, karena ke-bete-an saya terlalu besar, dan saya juga harus membelikan titipan mama saya, alhasil pergilah saya keluar rumah. Saya pun kembali berkutat dalam kesendirian di temani wifi gratis fasilitas kampus yang di sediakan di dekanat fisipol. Tidak lupa rokok dan teh kotak kesayangan yang ikut melengkapi.

Kesendirian saya itu membawa saya kepada memori 4 hari yang lalu. Hari itu merupakan hari yang cukup menyenangkan dan sekaligus melelahkan buat saya. Mungkin karena faktor saya kurang tidur membuat hari ini begitu melelahkan. Dihari itu saya mulai dengan bangun pagi untuk melihat performance teman saya (baca : ANDRI) yang mempresentasikan proposal pengajuan judulnya di kelas seminar (LOL) yang untungnnya cuman ada 3 mahasiswa yang seminar waktu itu sehingga jam keluar juga sedikit lebih cepat, di lanjutkan dengan menemani amourdemavie ke bank untuk tukar duit sekalian makan bareng dan menunggu jam 4 di studio tato, dan kembali ke kampus untuk menghadiri kelas Teori Hubungan Internasional.

Setelah kelas itu bubar, saya dan ketiga teman saya (Edi, Febri, dan Andri) memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat hiburan keluarga yaitu tempat karoke. Sebenarnya kami berempat sudah lama merencanakan hal ini tapi karena selalu gagal, akhirnya kami memutuskan untuk melakukannya hari ini sekaligus merayakan kebebasan Andri dari presentasi seminarnya yang bisa dibilang cukup memuaskan. Dan pergilah kami ke tempat itu.

Teman saya si Febri yang baik hati bersedia merogoh koceknya untuk mentraktir kami hari itu. Dua jam kami habiskan untuk teriak-teriak membuang suara di salah satu bilik di tempat karoke itu. Kurang puas sih sebenarnya tapi cukup menyenangkan. Setelah si Edi meninggalkan kami lebih dulu, saya, Febri dan Andri memutuskan untuk main ke mall di dekat tempat karoke itu. Setelah bosan berjalan, dan setelah Andri dan Febri bosan menemani saya melihat-lihat High-Heels, kami memutuskan untuk makan gorengan yang di rekomendasikan Febri yang bertempatkan di pintu bagian selatan mall tersebut. Sesampainya disana, kami langsung mencomot gorengan yang kita mau dan tentunya masih di traktir Febri.

Ibu paruh baya itu tersenyum geli melihat kelakuan kami yang sedikit memalukan karena kami makannya agak greed, hehe. Ibu itu tidak berjualan seorang sendiri, dia di temani seorang teman yang ikut menjajakan gorengan dan seorang anak perempuan cantik yang berumur sekitar 4 tahun. Anaknya merengek kepada ibu itu minta di belikan Es Salju. Ibunya pun mengiyakan keinginan anaknya agar tidak merengek lagi.

Perhatian saya tiba-tiba tertuju pada ibu paruh baya itu. Ada sedikit kejanggalan yang saya lihat dari situasi saat itu.

apa ibu ini di perbolehkan berjualan di tempat ini?

Jawabannya tentu tidak. Mana ada seorang pun yang boleh menjajakan barang jualannya apa lagi di depan pintu masuk mall tanpa izin dari pemilik mall. Bukankah akan memperburuk nilai kredibilitas dari mall tersebut? Bukannya saya tidak mendukung ibu tersebut yang mencoba mencari nafkah dengan berjualan disana. Tapi saya sangat yakin ada peraturan yang tidak membenarkan hal itu. Tapi kenapa ibu itu bisa melenggang di depan pintu mall itu dan menjajakan makanannya? Dan akhirnya, untuk menjawab rasa penasaran saya, saya mencoba bertanya dengan ibu paruh baya itu.

ket : 
saya (NDA)
ibu paruh baya (IPB)


NDA : (sambil meahap gorengan) Bu, udah lama yah jualan disini?
IPB : Baru beberapa bulan sih de.
NDA : Emang gapapa yah bu jualan di depan pintu mall gini? ga dimarahin ato di usir sama satpamnya?
IPB : Yah sebenarnya sih ga boleh. Tergantung juga, De. Kalo ketemu satpam yang baik, yah gapapa saya jualan disini. Kalo ga boleh, satpam nya udah lewat berapa kali mukanya masem, saya udah buru-buru aja beresin barang-barang saya.
NDA : Sama yang punya mall pernah di samperin ato di apain gitu?
IPB : Ga pernah sih, De. Paling cuman satpam nya yang nyamperin. Ada juga satpam yang ngusir tapi mau minta gorengan tapi malu-malu terus sok galak lagi. Tapi kalo di bungkusin gratisan langsung nyamber.
NDA : Waduh, sialan juga tuh satpam, haha. Ga coba untuk jualan di rumah sakit? Di RSU W. Syahrani mungkin?
IPB : Saya dulunya jualan disana, De. 15 tahun saya jualan di rumah sakit umum, jualan gorengan juga. Saya jualan dua kali subuh sama sore. Yah alhamdulillah bisa nyekolahin anak-anak. Tapi kami pedagang asongan sering di tuduh macam-macam, De. Yah kadang di tuduh nyolong Hand Phone parahnya sampai di tuduh ngolong motor. Semenjak direktur rumah sakit di ganti, kita udah ga boleh lagi jualan di RSU. Direktur yang baru nyewa Satpol PP dengan membayar Rp. 4.000.000,- buat ngusir kita. Waktu direktur yang baru lengser karena korupsi, direktur baru yang di rekrut lagi bikinin kita kios-kios buat dagang, saya mah udah males, udah ga mau nginjak rumah sakit lagi, sakit banget hati saya di tuduh maling.
NDA : Emang sih nyebelin, tapi yah untung deh bu masih bisa jualan, saya sama teman-teman permisi dulu yah bu, dan semoga tidak di usir sama satpam mall. (sambil menunggu Febri membayar semua yang kita makan, haha)

Mungkin dari situ kita bisa tangkap beberapa hal yang secara manusiawi tidak pantas. Kita bisa melihat bahwa oknum-oknum yang kita anggap selama ini baik-baik saja ternyata malah tidak. Tidak hanya buat mereka yang di deretan atas, tapi yang di bawah pun serupa. Korbannya, seperti si ibu paruh baya tadi. Kebayang kan kalau ada 100 orang seperti ibu paruh baya yang menjadi korban oknum-oknum tidak bertanggung jawab seperti yang saya jabarkan diatas?

Saya memang bukan penulis sosial yang baik. Yah seengganya, saya sudah berusaha menyampaikan apa yang kiranya bisa menjadi bahan bacaan yang bisa membuka mata kita semua lebar-lebar tentang apa yang terjadi di negara dunia ketiga ini.

So, What Kind Of Person That You Wanted To Be?

Friday, November 5, 2010

Letter to Mr. Ban Ki-Moon : Pesanannya Bang Zen

bang zen, iki lho pesanannya.
monggo, have a look :p

Dear Mr. Ban Ki-Moon

First of all, it’s really an honor for me to have a chance to write to you.  This letter is about the UN contribution in promote the peaceful use of nuclear. As we know Iran’s claim that it has a “peaceful” right to acquire all it needs to come within days of having a bomb should remind us of what the Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT) was meant to avoid. As the diplomat who first proposed the treaty, Irish Foreign Minister Fred Aiken, explained in 1959, a world of nuclear-ready states would resemble a town full of armed residents pointing guns at each other’s heads. At some point, mutual suspicion and the advantage of firing first would give way to mayhem.

Just as many conventional thermal power stations generate electricity by harnessing the thermal energyfossil fuels, nuclear power plants convert the energy released from the nucleus of an atom, typically via nuclear fission. When a relatively large fissile atomic nucleus (usually uranium-235 or plutonium-239) absorbs a neutron, a fission of the atom often results. Fission splits the atom into two or more smaller nuclei with kinetic energy (known as fission products) and also releases gamma radiation and free neutrons. A portion of these neutrons may later be absorbed by other fissile atoms and create more fissions, which release more neutrons, and so on. released from burning

This nuclear chain reaction can be controlled by using neutron poisons and neutron moderators to change the portion of neutrons that will go on to cause more fissions. The best chance for nations seeking to prevent further nuclear proliferation is to enforce the original presumption of the Nuclear Non-Proliferation Treaty’s. against the unnecessary spread of unsafeguardable nuclear activities and materials. Article IV of the Nuclear Non-proliferation Treaty (NPT) recognises the right of the parties to the peaceful uses of nuclear energy.

We believe that nuclear energy has an important role to play in combating the effects of climate change, ensuring energy security and achieving the Millennium Development Goals.

The importance of civil nuclear power

1. enables developing countries to source the low-carbon energy they need to underpin sustainable development

2. proven technology which generates low carbon electricity, is affordable, dependable, safe, and capable of increasing diversity of energy supplies. 

3. essential part of any global solution to the challenges of climate change and energy security

With the conditions existing today, it's good to reinforce the UN laws they have, so that nuclear power does not fall into the wrong hands that will make nuclear power as a deadly weapon for the world community. With the prohibition in certain clauses in the UN can minimize the misuse of nuclear energy. And also with the research on nuclear power to be tightened its supervision, so that no countries are secretly making nuclear for the benefit of the negative. UN can also make a policy here where nuclear power is used for things that help the development of state land, for example, build nuclear power plants.

I think it’s all for my letter, I hope this letter can be taken into consideration for the UN to get much better than this in the handling of nuclear power in order to create peace and not just a weapon for war. I hope the UN can move forward in the international arena.


Thank you

Best Regards,

Ananda Ruriska Saputri

Wednesday, November 3, 2010

Roti bakar buatan Mama 11 tahun yang lalu

Beberapa hari yang lalu, ga tau kenapa saya teringat dengan roti bakar buatan mama saya yang sering mama bikin buat sarapan saat saya duduk di kelas 5 SD. Yah kalo di hitung2 kurang lebih udah 11 tahun mama ga pernah bikin roti bakar her handmade lagi. lumayan lama sih dan berasa kan kangennya kaya gimana. Malam ini saya mengutarakan kekangenan saya dengan roti bakar tersebut. Alhasil, saya jadi tumbal disuruh pergi ke swalayan buat beli roti (huft!). Tapi setelah pulang dari swalayan, setelah selamat dari antrian panjang kasir, usaha saya terbayar dengan roti bakar buatan mama 11 tahun yang lalu itu. Horaaaaayyy!!!

THIS IS IT,  Robak yang saya kangenin :p

Hehe.
Thanks yaa Ma, udah ngobatin kangen saya. Muwah :*

Kissing You : Amourdemavie, if you read this, please have a look :*

amourdemavie, masih ingat kan percakapan kita tentang "bibir yang saling bersentuhan"?
well, mungkin aku ga pernah mengutarakan hal itu.
tapi mungkin lirik lagu ini yang bisa mewakilkan apa yang aku rasakan ketika berada di moment itu.

amourdemavie, if you read this, please have a look :*

Miranda Cosgrove - Kissing U


Sparks fly it's like electricity
I might die, when I forget how to breathe
You get closer and there's no where in this world I'd rather be
Time stops like everything around me is frozen
And nothing matters but these
Few moments when you open my mind to things I've never seen


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you


Past loves they never got very far
Walls of pictures I got in my heart
And I promise I wouldn't do this
Till I knew it was right for me
But no one, no guy that I met before
Could make me feel so right and secure
And have you noticed I lose my focus
And the world around me disappears


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you


I've never felt nothing like this
You're making me open up
No point in even trying to fight this
It kinda feels like it's love, love


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissin you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you

Une De Mes Déceptions à La Famille (part 3)

Hari ini hujan kembali turun. Tak lupa dengan petir sebagai sahabatnya. Aku terbangun dari tidurku semalam dan menatap kamarku yang cukup berantakan. Jam didinding kamarku menunjukkan pukul 11.25 wita. Ku tutup kedua mata dan telingaku karena petir yang menggelegar. Phobiaku terhadap petir sangat menjadi masalah buatku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan pergi keluar rumah. Cahaya kilat bagaikan blitz kamera menandakan akan ada rentetan petir yang akan menyambar dan seakan mengingatkanku untuk kembali meringkuk di tempat tidur dan menutup kedua telingaku.

Kulihat sosok seorang pria yang datang kearah rumahku yang ternyata adalah suami dari ibuku (yang dulunya adalah ayahku).

“put, ayo masuk kerumah, petirnya banyak tuh”

Pria itu berkata, mengingatkanku dengan ketakutanku akan petir. Aku mengindahkan tegurannya dan berpaling berlari menuju ibuku yang terlihat kesusahkan membawa barang belanjaannya.

Aku teringat akan kewajibanku untuk memberi makan anak-anak kucingku yang terlihat kelaparan. Ku ambil ayam goreng di meja makan lalu ku beri mereka makan, termasuk ibunya  (baca : JIJI). Ketika anak-anak kucingku makan dengan lahap, ku lihat ibunya tidak memakan makanannya. Jiji memberikan jatah makanannya pada ketiga anaknya. Melihat kejadian itu, aku teringat dengan teguran suami ibuku tadi.

Setelah kejadian itu dan kebohongan SPIRITUAL-GUIDE-ANJINGSIALAN itu terungkap, saya memang tidak pernah menegur suami ibuku terlebih ketika mengingat bahwa dialah faktor terbesarku kehilangan Little Sunset.

SAYA BENCI DIA

Kurang lebih sudah hampir sebulan aku tidak pernah menegurnya. Ibuku pun sudah sering memberikan penjelasan dan melakukan pembelaan untuk suaminya. Dia berkata kalau suaminya merasa bersalah, khilaf, dan berjanji tidak akan melakukan hal serupa padaku. Is that so?

“maaf Mama, tapi saya sudah terlanjur BENCI dan tidak percaya padanya lagi, Ma”

 Terkadang aku merasa kasihan juga sih dengan ibuku. Melihat kegalauannya, dilema, harus memilih aku atau pria itu. Sudah sering aku melihat wajah sedihnya ketika dia duduk termangu di sofa depan rumah. Tapi kebencianku terhadap pria itu terlampau besar sehingga mengabaikan kesedihan ibuku.

Setelah kejadian itu, terlihat sekali pria itu berusaha untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaanku kembali. Pria itu menjadi lebih perhatian padaku lebih dari biasanya. Mulai dari sekedar mengajakku ngobrol, menanyakan aku kuliah di antar siapa, apakah aku sudah makan, bagaimana kuliahku, menambah uang jajanku, dan usaha-usaha lainnya yang (pasti) ku jawab dengan dingin, datar dan seadanya.

Saya bukan tipikal orang yang mempercayai “kesempatan kedua” terhadap hal-hal tertentu, terlebih setelah kejadian itu. . Dan tentunya, kesempatan kedua itu tidak berlaku terhadap pria itu. Luka yang sudah di torehnya sudah terlalu dalam. Baik secara batin maupun fisik.

Setelah kejadian itu, ibuku sering mengatakan kalimat, 

"tuhan saja mau memaafkan umatnya, kenapa umatnya tidak bisa?”

Dan aku menjawab dengan empat kata.

“aku bukan tuhan, ma.”