Sunday, February 27, 2011

Bulan dan bintang malam itu...

Malam ini aku lagi-lagi tidak bisa memejamkan mata. Jam di handphone ku menunjukkan jam 04.30 am dini hari. Shit! Ini hari ke-empat aku tidak bisa tidur. Amourdemavie, sudah tidur nampaknya. Tinggalah aku sendirian di peraduan. Bosan dengan keadaan kamar, aku pun memutuskan untuk pergi ke atas atap rumah. Cukup lama aku tidak mengunjungi tempat ini. Ada sekitar 2 bulan, aku tidak menjamah dinginnya malam di tempat itu. Lama aku tidak bercengkrama, berkeluh kesah bersama bintang, atau hanya sekedar menatap bulan saat purnama berlangsung. Mereka memang tidak pernah kehilangan keindahannya. Bahkan lebih indah dari lukisan terkenal Van Gogh, Monalisa.

Dingin malam itu begitu terasa, namun tetap lembut menyapa ku. Bintang malam itu tidak terlalu banyak, dan bulan pun enggan untuk keluar. Mungkin bulan merasa kedinginan seperti saya hingga membuatnya tidak ingin beranjak dari sangkar awan lembutnya. Aku merindukan kalian...

Aku memutuskan untuk menunggu kehadiran mereka, walaupun saya tahu, sangat sulit untuk bisa mendapati mereka sekarang. Aku tetap menunggu, sembari membaringkan tubuhku di atap yang berembun, sambil menikmati eksotika langit malam.

Aku tertidur...
Suara penggorengan terdengar, itu pasti ibuku yang sedang memasak. Mereka pun tak kunjung datang. Itu membuatku sedih, kawan lama.

Mataku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kantuk, dan aku berjalan menuruni anak tangga satu per satu. Kecewa tidak sempat melihat objek lukisan indah di atas kanvas tuhan.

"Nanda, you have a date tomorrow, get some sleep!", gumam ku dalam hati.

Saya kembali ke peraduan dan memejamkan mata. Berharap bisa bertemu mereka di dalam mimpi.

Amourdemavie, besok, adalah harimu, enjoy :*

Friday, February 25, 2011

Senioritas

"...eh, kamu ngeyel yah di kasih tau! kalo mau minta tanda tangan saya, kamu harus cari 3 semut. semut perempuan, semut laki-laki, dan semut bencong! kalo udah dapat, baru saya mau tanda tangan, ngerti!"

Jaman SMA dulu, saya pernah mengikuti MOS, yang kalo di panjangin artinya Masa Orientasi Siswa. MOS ini kerjaannya kaka –kaka kelas anak OSIS. Kegiatan MOS yang berkedok pengenalan siswa baru dengan sekolah yang baru ini menjadi ritual setiap tahun ajaran baru. Saya mendapati kegiatan MOS itu sebagai kegiatan ‘ospek mini’ yang isinya anak-anak baru pada di kerjain sama kaka-kaka kelas. Bentuknya yah beragam tapi masih dalam batas wajar tapi tetep ngeselin sih, hihi.

Saya masuk SMA pada tahun 2005, yah sekitar 5 tahun yang lalu. Di jaman itu, senioritas sangat di ‘dewa’ kan. Menjadi senior pada waktu itu menjadi hal yang sangat keren sekali buat mereka. Ketika si senior bisa melakukan apapun yang dia mau pada juniornya, dan si junior dengan bodohnya hanya bisa menerima perbuatan buruk si senior. Sinetron sekali!

Semasa SMA saya tidak pernah sih bermasalah dengan si kaka-kaka kelas itu. Karena saat itu saya benar-benar tidak peduli dengan hal itu, sangat acuh dengan keadaan sekitar dan bisa juga di bilang culun. Yah tertawalah.

-0-

“Pasal satu, senior selalu benar. Pasal dua, junior selalu salah. Pasal tiga, kalau ada senior yang melakukan kesalahan, kembali ke pasal pertama.”

Itu benar-benar sudah tidak asing lagi di telinga kita. Itu yang di teriakkan para kaka tingkat panitia dedikasi di kampus saya. Dedikasi disini merupakan kegiatan seperti ospek tapi hanya untuk jurusan. Saya sendiri tidak pernah mengikuti kegiatan dedikasi tersebut saat awal perkuliahan. Saat itu saya sudah semester 5. Saya bukanlah panitia dedikasi seperti halnya teman-teman saya. Saya hanya di undang oleh salah satu teman yang menjadi wakil ketua panitia kegiatan tersebut. Saya di undang untuk menghadiri acara English Club di kampus dan membantu teman saya untuk jaga di posko International Relation dimana ketika adik-adik tingkat peserta dedikasi itu datang harus bisa menggunakan bahasa inggris. Mereka akan di tanya hal-hal seputar hubungan internasional dan harus di jawab dengan bahasa inggris.

-0-

“…buat peserta dedikasi, kalau ada yang bertanya ato ngerjain kalian tadi mereka tidak mengenakan baju panitia dedikasi atau bet pengenal dedikasi, kalian berhak untuk tidak menjawab dan melakukan apapun yang mereka suruh…”

Setibanya saya di posko saya bingung, apa yang harus saya lakukan di posko itu.

“lakukan apapun yang lo mau, nda” kata seorang teman saya yang sama-sama jaga di posko itu.

Apapun? Berarti saya bisa minta duit dong sama mereka? Haha, ga ding becanda.

“apapun, which is?” saya balik bertanya.

“apapun including anything” teman saya menjawab.

Well, saya pun tidak menjawab dan hanya menyalakan rokok waktu itu.

Rombongan kelompok 1 pun datang ke posko kami, delegasi dari Canada rupanya. Mereka memulai dengan yel-yel yang telah mereka siapkan. Saya tidak melakukan apapun terhadap kelompok pertama ini. Saya hanya mengamati yang di lakukan oleh 2 orang teman saya itu pada kelompok pertama itu. Mereka bertanya beberapa pertanyaan wajib sebagai penilaian untuk akhir acara dan setelah itu mereka menyuruh kelompok itu untuk membawakan yel-yel dedikasi dalam bahasa inggris, tentunya tidak lupa goyang pinggulnya, dan yang terakhir salah satu teman saya itu memberikan nasehat pencerahan pada peserta dedikasi.

“ooh, begitu toh”, aku bergumam dalam hati.

Kelompok kedua datang ke posko kami, teman saya meminta saya untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada kelompok sebelumnya. Dan akhirnya saya mencoba dan mereka pun menurut. Woow, teman saya benar, saya bisa melakukan apapun sesuka hati saya pada mereka. Eh tapi, bukankah mereka sudah di beri peringatan, jangan menjawab atau melakukan apapun yang disuruh seseorang yang bukan panitia dedikasi. Saya tidak mengenakan apapun atribut panitia dedikasi, tapi kenapa mereka menurut? Apa sebegitu menakutkannya sosok seorang senior dimata mereka? Tidak hanya terjadi pada saya, di posko lain pun ada mahasiswa yang bukan panitia ikut memerintah peserta dedikasi dan mereka pun menurut. Mereka pun enggan menatap mata saya ketika saya ajak berbincang, mereka lebih memilih untuk menundukkan kepala. “Hey, saya tidak akan melakukan hal yang buruk terhadapmu kok.”, ucapku dalam hati.

-0-

Siang itu saya dan teman baik saya pergi ke warung makan yang berada di dekat kampus. Kami ingin mengisi perut sebelum menghadiri kelas pada jam 04.00 pm. Di warung makan yang cukup besar itu kami berpapasan dengan adik-adik tingkat angkatan 2009. Saya tidak begitu mengenal mereka, ada beberapa wajah yang saya kenal karena saya pernah mengulang 2 mata kuliah di kelas mereka. Teman saya, yang notabene nya adalah wakil ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional ini pastinya sangat di kenal sama adik-adik tingkat ini. Jadilah saya terjebak dalam obrolan yang menjemukan seputar organisasi. Salah satu dari mereka, perempuan manis berjilbab, bertanya kepada saya, “Kak, gimana dedikasi kita kemaren? Oiya, mata kuliah diplomasi itu seperti apa sih? Jelasin dong, Kak”. What the? Kak? Anak itu memanggil saya dengan sebutan ‘kakak’? Haha, saya merasa aneh. Umur kami tidak jauh berbeda, bahkan saya lebih muda dari mereka.

“Duh, jangan panggil ‘kakak’ dong, Cha. Berasa tua nih saya, hehe”, saya menanggapi pertanyaannya.

“Ih kan ga enak, Kak. Kakak kan kakak tingkat kami. Kami harus dong panggil ‘kakak’. Kalo engga ntar di kira ga sopan lagi.”, si adik tingkat itu menjawab.

Damn! Harus? Saya hanya bisa menahan tawa dengan tersenyum ketika mendengar pernyataan adik tingkat saya ini.

-0-

Malam hari saat saya dan teman baik saya si Wakil Ketua HIMAHI ini untuk hangout di café langganan kami. Disana kami menghabiskan waktu dengan online dan menikmati minuman yang kami pesan. Di tengah tidak adanya perbincangan diantara kami lantaran tadinya sibuk menatap monitor laptop masing-masing, teman saya mulai membuka percakapan.

“Nanda, udah ada adik tingkat yang add facebook mu belom?”, teman saya bertanya.

Saya pun menjawab, “Hmmm, ga ada tuh. Lagian kalo gw mau bisa gw add sendiri kali.”

“Ih, Nanda! Kita ini kan kakak tingkat, masa kita yang add mereka sih? Malu dong ah. Jaga image dong, Nanda.”, balas teman saya.

Saya tidak membalas, hanya tersenyum.

-0-

Apa yang terjadi dengan mereka? Sepertinya senioritas menjadi sangat penting sekali. Karena ketika menjadi senior, kita akan di llihat dan di kenal. Terlebih untuk meraka yang aktif dalam kegiatan organisasi, popularitas menjadi hal yang sangat mutlak untuk seorang senior.

Tahukah kawan ketika kalian membeda-bedakan antara satu sama lain saat itu juga kalian membangun tembok yang bertuliskan ‘batas’?
Kalian tidak bisa menjamah satu sama lain. 
Tahukah kalian ketika kalian membuat satu batasan sama saja kalian merancang musuh yang nantinya akan kalian lawan?

Thursday, February 24, 2011

Ketika Sebuah Cinta Menjadi Suatu Kebodohan

Sore itu tidak terik, bahkan mendung, hari yang sangat mendukung sekali untuk pergi kembali melabuhkan tubuhku ke peraduan. Tetapi tidak, saya ada kelas jam 04.10 pm yang mau tidak mau harus saya hadiri karena yang mengajar waktu itu adalah dosen wali saya, damn!

“…Hone yakin dengan aku ngeblock ngeremove hone dari facebook dan ym bisa mengurangi rasa curiga hone ke aku? engga hone, malah bakal makin parah. Lihat saja sekarang, hone yang masih bisa lihat kegiatanku di facebook ato ym saja masih mengundang kecurigaan, apalagi kalo udah buta sama sekali. Dan aku bakal lebih sering di tuduh selingkuh atau mungkin lebih parah...”

Hari itu bertepatan dengan anniversary saya dan pacar saya. Entah kenapa, ada yang janggal dengan hari itu. Yang ternyata pacar saya dengan ritual tanggal 23 nya itu mengerjai saya. Tapi ada yang aneh dengan obrolan kami, obrolan tentang kecurigaan yang berujung pada rasa cemburu yang mengganas melalui situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter, pacar saya bilang kalau itu hanya sekedar candaan dari ritual tanggal 23 tersebut. Tapi saya melihat ada keseriusan di balik itu. Apa yang di katakannya tidak serta merta hanya sebuah candaan, aku yakin itu.

“Iya yakin.  Aku udah pikirin semakin aku gak tau, semakin aku gak mau tau, jadi kecurigaan akan hilang.   .

Shit! Jawaban itu jujur membuat saya bingung, saya sangat mengerti maksud yang di ucapkannya. Tapi apakah bisa dengan hanya melakukan hal itu, aku tak yakin.

-0-

Saya pun mendapati teman baik saya setibanya saya di kampus. Teman saya laki-laki. Mengingat obrolan saya dengan pacar saya, akhirnya saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan seputar kecurigaan, cemburu, dan privasi dengan harapan bisa menjawab semua kebingungan saya.

“…Nanda, kamu itu terlalu pintar. Kepintaranmu itu bisa mengintimidasi pasanganmu. Tidak bisakah kamu berbohong menjadi pura-pura bodoh? setidaknya pasanganmu tidak akan merasa bodoh dan minder bila berada di dekatmu.”

Pembelaan saya :
1.      Pintar. Menjadi pintar itu relatif, semua orang mempunya basic kepintaran yang sama hanya saja tidak semua orang bisa memanfaatkan kepintaran yang dia punya hingga menjadi sangat malas untuk menggunakannya sampai akhirnya ada kata bodoh untuk me-label-i orang-orang seperti itu.
2.      Kepintaran bisa mengintimidasi pasangan. What a nonsense? Kepintaran itu hanya mengintimidasi ketika seseorang berusaha untuk menjadi lebih pintar dari pasangannya.
3.      Berbohong berpura-pura menjadi bodoh. Ini namanya pembodohan, ketika kita berlomba untuk menjadi cerdas sementara kita di tuntut harus menjadi bodoh, WTF! Anjis, bodoh banget dong. Dan juga bukankah dalam suatu hubungan sangat di tekankan untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran dari masing-masing pasangan?
4.      Berpura-pura menjadi bodoh agar pasangan tidak merasa minder. Ayolah sekarang anda di tuntut untuk mempunyai otak brilian. Menjadi bodoh hanya untuk bisa menarik perhatian pasangan, what a moron? Terus, apa kabarnya dong dengan be your self?

Hal ini mengingatkan saya pada satu film drama komedi yang berjudul The Ugly Truth yang menceritakan seorang wanita pintar dan perfeksionis yang bekerja sebagai produser sebuah acara di salah satu stasiun tv lokal di kotanya yang sedang jatuh cinta pada seorang dokter pria yang tinggal berseberangan dengan apartemennya. Di film itu, si wanita berusaha untuk mendapatkan hati si pria dengan cara yang sangat bertolak belakang dari kepribadiannya. Si wanita berambut pendek dengan sosok perfeksionisnya yang hanya berpenampilan seadanya itu berubah 180o menjadi wanita yang glamour dengan rambut panjang bergelombang dan gaun manis nan seksi di tubuhnya, mengenakan make up yang mengubah wajahnya menjadi sangat cantik, dan menghilangkan sosok perfeksionis itu menjadi gadis tidak penuh dengan kritik. Memang sih, siapa yang suka dengan sosok pengatur? Para pria juga pasti akan lebih suka ketika mempunyai pasangan tidak mengkritisi apa saja yang mereka lakukan.

-0-

“…Pria itu berfikir menggukanan logika, ketika memiliki pasangan seorang wanita yang sama-sama berfikir dengan logika, maka para pria akan merasa tersaingi itu yang bisa membuat mereka merasa terintimidasi, dan pria tidak suka itu...”

Hal seperti itu yang di maksud oleh teman saya, menjadi bodoh. Karena menurutnya sosok lelaki dalam suatu hubungan harus mendominasi pasangannya. Pria tidak suka di ragukan kepintarannya ketika melihat pasangannya jauh lebih pintar darinya. Simplenya pria lebih suka dengan wanita yang bodoh dengan sifat sentimentil yang berlebih di bandingkan dengan wanita dengan logika.

-0-

Bukankan ketika kita memulai suatu hubungan bukankah kita harus bisa menerima pasangan kita apa adanya?
Bukankah hal yang paling melandasi suatu hubungan adalah kepercayaan antara satu sama lain?
Bukankah ketika kita ada di suatu hubungan kita harus mendasarinya dengan kejujuran?