dengan kesendiriannya malam ini, dia berjalan menyusuri trotoar di tengah kota di temani lampu-lampu sorot dari kendaraan bermotor yang lewat.
kakinya yang rapuh memaksanya untuk berhenti karena sudah terlalu lama berjalan.
tertegun termangu dengan mata menengadah ke langit melihat mendungnya di malam itu.
bintang pun malam itu enggan memamerkan keindahannya terhadap sang malam. memberikan kesempatan pada lampu-lampu sorot kendaraan itu untuk menggantikannya sejenak untuk malam ini.
malam semakin larut, dinginnya menyelimuti tubuh dan bunyi lolongan anjing seakan mengajak berdialog.
kegalauan nya malam itu menciptakan ketidak selarasan pada jahir dan batinnya.
membelenggu otak dan perasaannya.
kehampaan sudah terlalu lama membungkus hatinya membuatnya menjadi sangat dingin.
ketimpangan rantai kehidupan yang hampir selalu menghantui gerak-geriknya.
bibirnya membeku biru dengan badan terbujur kaku, dia mengangkat tangannya tertatih, dan bertanya pada tuhannya.
"apakah harus seperti ini?"
di temani hujan dengan petir yang menggelegar, menunjukkan hegemoni sang tuhan dan berkata,
"HIDUPMU BERAWAL DARIKU!"
sang tuhan melihat keterpurukannya tidak melakukan apapun untuknya.
sang tuhan terlalu sibuk dengan umatnya hingga mentertawakannya.
sang tuhan terus memamerkan kebesarannya yang tak terhingga.
sang tuhan yang sombong dengan apa yang dia punya.
sang tuhan meludah memuntahkan hinaannya padanya.
tuhan yang di pujanya mencampakkannya.
dia hanya bisa terdiam bisu tanpa mendengar jawaban dari tuhannya.
kembali berusaha untuk memulai langkah, melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
langkah-langkah kakinya, menandakan kepergiannya dari sang tuhan.
PERIOD