Wednesday, November 3, 2010

Roti bakar buatan Mama 11 tahun yang lalu

Beberapa hari yang lalu, ga tau kenapa saya teringat dengan roti bakar buatan mama saya yang sering mama bikin buat sarapan saat saya duduk di kelas 5 SD. Yah kalo di hitung2 kurang lebih udah 11 tahun mama ga pernah bikin roti bakar her handmade lagi. lumayan lama sih dan berasa kan kangennya kaya gimana. Malam ini saya mengutarakan kekangenan saya dengan roti bakar tersebut. Alhasil, saya jadi tumbal disuruh pergi ke swalayan buat beli roti (huft!). Tapi setelah pulang dari swalayan, setelah selamat dari antrian panjang kasir, usaha saya terbayar dengan roti bakar buatan mama 11 tahun yang lalu itu. Horaaaaayyy!!!

THIS IS IT,  Robak yang saya kangenin :p

Hehe.
Thanks yaa Ma, udah ngobatin kangen saya. Muwah :*

Kissing You : Amourdemavie, if you read this, please have a look :*

amourdemavie, masih ingat kan percakapan kita tentang "bibir yang saling bersentuhan"?
well, mungkin aku ga pernah mengutarakan hal itu.
tapi mungkin lirik lagu ini yang bisa mewakilkan apa yang aku rasakan ketika berada di moment itu.

amourdemavie, if you read this, please have a look :*

Miranda Cosgrove - Kissing U


Sparks fly it's like electricity
I might die, when I forget how to breathe
You get closer and there's no where in this world I'd rather be
Time stops like everything around me is frozen
And nothing matters but these
Few moments when you open my mind to things I've never seen


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you


Past loves they never got very far
Walls of pictures I got in my heart
And I promise I wouldn't do this
Till I knew it was right for me
But no one, no guy that I met before
Could make me feel so right and secure
And have you noticed I lose my focus
And the world around me disappears


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissing you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you


I've never felt nothing like this
You're making me open up
No point in even trying to fight this
It kinda feels like it's love, love


Cause when I'm kissin you my senses come alive
Almost like the puzzle piece I've been trying to find
Falls right into place you're all that it takes
My doubts fade away when I'm kissin you
When I'm kissin you it all starts making sense
And all the questions I've been asking in my head
Like are you the one should I really trust
Crystal clear it becomes when I'm kissin you

Une De Mes Déceptions à La Famille (part 3)

Hari ini hujan kembali turun. Tak lupa dengan petir sebagai sahabatnya. Aku terbangun dari tidurku semalam dan menatap kamarku yang cukup berantakan. Jam didinding kamarku menunjukkan pukul 11.25 wita. Ku tutup kedua mata dan telingaku karena petir yang menggelegar. Phobiaku terhadap petir sangat menjadi masalah buatku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan pergi keluar rumah. Cahaya kilat bagaikan blitz kamera menandakan akan ada rentetan petir yang akan menyambar dan seakan mengingatkanku untuk kembali meringkuk di tempat tidur dan menutup kedua telingaku.

Kulihat sosok seorang pria yang datang kearah rumahku yang ternyata adalah suami dari ibuku (yang dulunya adalah ayahku).

“put, ayo masuk kerumah, petirnya banyak tuh”

Pria itu berkata, mengingatkanku dengan ketakutanku akan petir. Aku mengindahkan tegurannya dan berpaling berlari menuju ibuku yang terlihat kesusahkan membawa barang belanjaannya.

Aku teringat akan kewajibanku untuk memberi makan anak-anak kucingku yang terlihat kelaparan. Ku ambil ayam goreng di meja makan lalu ku beri mereka makan, termasuk ibunya  (baca : JIJI). Ketika anak-anak kucingku makan dengan lahap, ku lihat ibunya tidak memakan makanannya. Jiji memberikan jatah makanannya pada ketiga anaknya. Melihat kejadian itu, aku teringat dengan teguran suami ibuku tadi.

Setelah kejadian itu dan kebohongan SPIRITUAL-GUIDE-ANJINGSIALAN itu terungkap, saya memang tidak pernah menegur suami ibuku terlebih ketika mengingat bahwa dialah faktor terbesarku kehilangan Little Sunset.

SAYA BENCI DIA

Kurang lebih sudah hampir sebulan aku tidak pernah menegurnya. Ibuku pun sudah sering memberikan penjelasan dan melakukan pembelaan untuk suaminya. Dia berkata kalau suaminya merasa bersalah, khilaf, dan berjanji tidak akan melakukan hal serupa padaku. Is that so?

“maaf Mama, tapi saya sudah terlanjur BENCI dan tidak percaya padanya lagi, Ma”

 Terkadang aku merasa kasihan juga sih dengan ibuku. Melihat kegalauannya, dilema, harus memilih aku atau pria itu. Sudah sering aku melihat wajah sedihnya ketika dia duduk termangu di sofa depan rumah. Tapi kebencianku terhadap pria itu terlampau besar sehingga mengabaikan kesedihan ibuku.

Setelah kejadian itu, terlihat sekali pria itu berusaha untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaanku kembali. Pria itu menjadi lebih perhatian padaku lebih dari biasanya. Mulai dari sekedar mengajakku ngobrol, menanyakan aku kuliah di antar siapa, apakah aku sudah makan, bagaimana kuliahku, menambah uang jajanku, dan usaha-usaha lainnya yang (pasti) ku jawab dengan dingin, datar dan seadanya.

Saya bukan tipikal orang yang mempercayai “kesempatan kedua” terhadap hal-hal tertentu, terlebih setelah kejadian itu. . Dan tentunya, kesempatan kedua itu tidak berlaku terhadap pria itu. Luka yang sudah di torehnya sudah terlalu dalam. Baik secara batin maupun fisik.

Setelah kejadian itu, ibuku sering mengatakan kalimat, 

"tuhan saja mau memaafkan umatnya, kenapa umatnya tidak bisa?”

Dan aku menjawab dengan empat kata.

“aku bukan tuhan, ma.”